Daftar Nama-Nama Kampung di Kota Yogyakarta Beserta Sejarahnya

nama kampung di yogyakarta

Nama-Nama Kampung di Kota Yogyakarta – Pasca Perjanjian Giyanti (1755) telah berkembang kampung-kampung kota yang dimulai dari pusat (Keraton Yogyakarta). Kampung-kampung untuk para abdi dalem dan prajurit tersebut ada yang berada di kawasan Jeron Beteng (dalam benteng) dan di Jaban Beteng (luar benteng). Kampung berbasis keraton adalah kampung yang berada di kawasan kraton dan keberadaannya berlatar belakang dengan Keraton Yogyakarta. Ada 3 (tiga) tipe kampung yang ada di Kota Yogyakarta di antaranya: (1) Kampung berdasar nama dalem pangeran dan bangsawan (45 kampung), (2) Kampung berdasar nama keahlian abdi dalem (38 kampung), dan (3) Kampung berdasar tempat tinggal abdi dalem prajurit keraton (14 kampung).

Nama-Nama Kampung di Kota Yogyakarta

Berikut ini adalah nama-nama kampung di Kota Yogyakarta berdasar nama pangeran dan bangsawan:

Panembahan

Kampung Panembahan berada di sekitar dalem kediaman Gusti Panembahan Mangkurat (GPH Mangkubumi), putra ke-18 Hamengku Buwono II dari garwa permaisuri GKR Kedhaton. Sebelumnya dalem tersebut merupakan kediaman Pangeran Adipati Anom atau putra mahkota (Calon Hamengku Buwono II), yaitu KGPAA Hamengkunegoro. Beliau adalah putra ke-5 Hamengku Buwono I dari garwa permasiuri GKR Kadipaten yang berganti nama GKR Hageng (GKR Tegalrejo).

Pada saat ini, dalem tersebut sudah tidak ada. Sebagian bangunan dalem yang masih tersisa adalah bangunan Masjid Selo dan sepasang gapura di selatan Plengkung Tarunasara. Kemudian tapakdalem tersebut menjadi perkampungan penduduk dari arah utara – selatan di sebelah poros Jalan Panembahan Mangkurat. Jadi, ke utara menuju Jalan Wijilan sampai Plengkung Tarunaura, ke selatan menuju Jalan Gamelan, ke timur di sebelah Jalan Panembahan, dan Jalan Mantrigawen, ke barat di sebelah Jalan Kemetbumen.

Di bagian timur sekitar Kampung Penembahan terdapat dalem BPH Suryomentaram, putra ke-55 Hamengku Buwono VII dari garwa BRAy Retnomandoyo. Kampung sekitar dalem tersebut dikenal dengan nama Suryomentaraman. Setelah menjadi Kyai Hageng Suryomentaraman, dalem tersebut diambil alih keraton dan ditempati oleh BRAy Corkodiningrat, putra ke-15 Hemengku Buwono VIII dari garwa BRAy Srengkoro Hadiningdiah. Pada saat ini, dalem tersebut dihuni oleh GKR Pembayun, putri sulung Sri Sultan Hemengku Buwono X dari garwa permaisuri GKR Hemas.

Di sebelah barat dalem tersebut Jalan Panembahan, timur Jalan Suryomentaraman, ke selatan menuju Jalan Mantrigawen Lor – Jalan Madyosuro, ke utara Jalan Mangunnegaran – Jalan Sawojajar, sekarang nama kampung tersebut Panembahan. Secara administratif, Kampung Panembahan berada dalam wilayah Kecamatan Keraton.

Suryaden

Kampung Suryaden berada di sekitar dalem KPH. Suryadi, suami GKR. Bendoro, putri ke-22 Hamengku Buwono VII dari garwa permaisuri GKR Kencono. Perlu diketahui bahwa dalem ini berada di selatan dalem Condronegaran, tepatnya di Jalan Suryaden. Selama ini masyarakat mengenal nama kampung tersebut Suryaden, Gedongkiwo. Secara administratif, kampung itu termasuk dalam wilayah Kelurahan Gedongkiwo, Kecamatan Mantrijeron.

Mangunjayan

Pada awalnya penyebutan nama kampung ini karena di wilayah tersebut terdapat tempat tinggal seorang bangsawan Keraton Yogyakarta yang bernama Mangunjaya (Dalem Mangunjayan). Dengan demikian, pemukiman (perkampungan) di sekelilingnya kemudian dikenal sebagai Kampung Mangunjayan. Akan tetapi, istilah Kampung Mangunjayan tersebut sudah tidak begitu dikenal oleh masyarakat. Pada saat ini, masyarakat menyebut tempat tersebut sebagai Kampung Keparakan Kidul.

Cokrokusuman

Dahulu Kampung Cokrokusuman merupakan tempat tinggal KRT. Cokrokusumo, yakni abdi dalem Cokro yang tugas pokoknya adalah memberi makan burung. Oleh karenanya, permukiman yang berada di dalem tersebut kemudian diberi nama Cokrokusuman. Secara administratif, Kampung Cokrokusuman termasuk wilayah Kecamatan Jetis.

Ngadiwinatan

Kampung Ngadiwinatan merupakan tempat tinggal GBPH Hadiwinata, yakni putra ke-64 Hamengku Buwono VII dari garwa BRAy Retnomandoyo. GBPH Hadiwinata adalah seorang guru dan ahli sastra Jawa. Letak kampung ini di sebelah timur Kampung Purwodiningratan. Secara administratif, Kampung Ngadiwinatan ini termasuk dalam wilayah Kecamatan Ngampilan. Sebelah timur kampung ini membentang jalan Bhayangkara (Jalan Ngupasan) menjadi pembatas antara wilayah Kelurahan Ngupasan dengan Kelurahan Ngampilan.

Kadipaten

Kampung Kadipaten sebenarnya merupakan dalem Adipati Anom, seorang putra mahkota KGPAA Hamengku Negoro (GPH Hangabehi), putra ke-1 Hamengku Buwono VI dari garwa permaisuri GKR Sultan (GKR Hageng). Setelah beliau dinobatkan menjadi Sultan Hamengku Buwono VII, dalem tersebut ditempati adiknya yang bernama KPPA Mangkubumi hingga dikenal oleh masyarakat dengan nama Mangkubumen. Setelah Pangeran Mangkubumi wafat, kemudian ditempati oleh adiknya, yaitu GPH Buminoto dan para kerabat lainnya.

Di sekitar dalem Kadipaten masih ada beberapa dalem, antara lain: dalem Condroprajan di sebelah timur yang dihuni oleh BRAy Condroprojo, putri ke-39 Hamengku Buwono VII dari garwa BRAy Retnojuwito. Dalam rentang waktu, dalem tersebut kemudian ditempati oleh GP. Purboyo, putra ke-8 Hamengku Buwono VII dari garwa BRAy Srengkoro Hadiningdiah. Sampai sekarang dalem ini masih ada, tetapi sudah mengalami pengalihan hak.

Berikutnya di sebelah barat Mangkubumen terdapat dalem Wirogunan (KRT. Wiroguno), putra Pangeran Mangkubumi yang berkedudukan sebagai Patih Putra Mahkota. Setelah wafat, tempat tersebut dihuni oleh putranya, yaitu KRT Purwodiningrat suami dari BRAy Siti Swandari (BRAy Purwodiningrat), putri ke-19 Hamengku Buwono VIII dari garwa BRAy Puspitoningdiah. Dalem tersebut kemudian dikenal dengan nama Dalem Purwodiningratan yang selanjutnya dihuni oleh GKR Anom Adibrata. Beliau adalah putra ke-1 Hamengku Buwono IX dari garwa KRAy Pintoko Purnomo sehingga dalem itu dikenal dengan nama Dalem Kanoman. Dalem-dalem tersebut berada di sebelah utara Jalan Kadipaten. Di sebelah barat daya, Jalan Nagan Kulon terdapat dalem BRAy Suronegoro, putri ke-32 Hamengku Buwono VIII dari garwa BRAy Retno Murcito.

Suryobrangtan

Kampung Suryobrangtan berada di sekeliling tempat tinggal BPH Suryobronto, putra ke-25 Hemengku Buwono III dari garwa BRAy Mulyosari. Pada waktu dulu, tugas BPH Suryobrongto bertanggungjawab terhadap pelaksanaan acara labuhan keraton. Adapun letak Suryobrangtan berada di sebelah barat Kampung Purwodiningratan. Sekarang dalem tersebut sudah tidak ada, nama kampungnya pun tidak dikenal secara luas. Secara administratif, termasuk wilayah Kecamatan Ngampilan.

Panembahan

Kampung Panembahan berada di sekitar dalem kediaman Gusti Panembahan Mangkurat (GPH Mangkubumi), putra ke-18 Hamengku Buwono II dari garwa permaisuri GKR Kedhaton. Sebelumnya dalem tersebut merupakan kediaman Pangeran Adipati Anom atau putra mahkota (Calon Hamengku Buwono II), yaitu KGPAA Hamengkunegoro. Beliau adalah putra ke-5 Hamengku Buwono I dari garwa permasiuri GKR Kadipaten yang berganti nama GKR Hageng (GKR Tegalrejo).

Pada saat ini, dalem tersebut sudah tidak ada. Sebagian bangunan dalem yang masih tersisa adalah bangunan Masjid Selo dan sepasang gapura di selatan Plengkung Tarunasara. Kemudian tapakdalem tersebut menjadi perkampungan penduduk dari arah utara – selatan di sebelah poros Jalan Panembahan Mangkurat. Jadi, ke utara menuju Jalan Wijilan sampai Plengkung Tarunaura, ke selatan menuju Jalan Gamelan, ke timur di sebelah Jalan Panembahan, dan Jalan Mantrigawen, ke barat di sebelah Jalan Kemetbumen.

Di bagian timur sekitar Kampung Penembahan terdapat dalem BPH Suryomentaram, putra ke-55 Hamengku Buwono VII dari garwa BRAy Retnomandoyo. Kampung sekitar dalem tersebut dikenal dengan nama Suryomentaraman. Setelah menjadi Kyai Hageng Suryomentaraman, dalem tersebut diambil alih keraton dan ditempati oleh BRAy Corkodiningrat, putra ke-15 Hemengku Buwono VIII dari garwa BRAy Srengkoro Hadiningdiah. Pada saat ini, dalem tersebut dihuni oleh GKR Pembayun, putri sulung Sri Sultan Hemengku Buwono X dari garwa permaisuri GKR Hemas.

Di sebelah barat dalem tersebut Jalan Panembahan, timur Jalan Suryomentaraman, ke selatan menuju Jalan Mantrigawen Lor – Jalan Madyosuro, ke utara Jalan Mangunnegaran – Jalan Sawojajar, sekarang nama kampung tersebut Panembahan. Secara administratif, Kampung Panembahan berada dalam wilayah Kecamatan Keraton

Suryatmajan

Kampung Suryatmajan berada di sekitar dalem KRT Suryoatmojo (suami BRAy Suryoatmojo), putri ke-13 Hamengku Buwono IV dari garwa BRAy Retnaningrum. Letak kampung di sebelah timur Kepatihan Danurejan. Jalur jalan di kampung tersebut, yaitu Jalan Suryatmajan ke arah barang menuju Jalan Malioboro, ke arah timur menuju simpul Jalan Suryotomo (Jalan Loji Kecil Wetan) dan Jalan Mataram (dulu Jalan Menduran Lor). Secara administratif, Kampung Suryatmajan berada di wilayah Kecamatan Danunegaran.

Purwodiningratan

Letak Kampung ini di selatan Jalan Pathuk (Jalan Aipda KS. Tubun). Perkampungan ini terletak di sekitar tempat tinggal abdi dalem KRT Purwodiningrat, suami BRAy Purwodiningrat, putri Hamengku Buwono VI dari garwa BRAy Sasmitaningrum. Tugas pokok KRT Purwodiningrat mengurus dan mengumpulkan pajak.

Kalau kita dari gledhegan dalem Purwodiningratan ke arah selatan menuju Jalan KHA. Dahlan (Jalan Ngabean). Sekarang ini, di lingkungan dalem tersebut berfungsi sebagai tempat pendidikan, dari TK, SD, SMP, dan SMA Yayasan Muhammadiyah. Secara administratif, Kampung Purwodiningratan ini termasuk dalam wilayah Kecamatan Ngampilan.

Pujokusuman

Kampung Pujokusuman berada di sekitar dalem GBPH Pujokusumo, putra ke-27 Hamengku Buwono VIII dari garwa BRAy Pujoningdiah. Dalem tersebut berada di timur pojok beteng timur. Untuk menuju ke dalem tersebut dari Jalan Brigjen Katamso (Jalan Gondokusuman) melalui gledhegan dalem ke arah timur.

Tepatnya Kampung Pujokusuman ini berada di selatan Kampung Dipowinatan dengan dibatasi oleh ruas jalan Dipokusumo. Kampung ini berada di bagian barat daya (dalam struktur Kelurahan Keparakan), yakni di belahan bagian barat Jalan Ireda dan belahan selatan Jalan Dipokusumo. Secara administratif, Kampung Pujokusuman ini termasuk dalam wilayah Kecamatan Mergangsan.

Ngadisuryan

Kampung Ngadisuryan berada di sekitar dalem BPH Hadisuryo, putra ke-48 Hamengku Buwono VII dengan garwa BRAy Retnowinardi. Dalem tersebut terletak di sebelah barat Alun-alun Selatan, di Jalan Ngadisuryan. Sebelumnya dalem tersebut ditempati GPH Buminoto, putra ke-69 Hamengku Buwono VI dari garwa permaisuri GKR Kencono sehingga dikenal dengan nama Buminatan.

Pada masa Hamengku Buwono VIII, ditempati oleh putranya ke-7 dari garwa BRAy Puspitoningdiah, yaitu GBPH Hangabehi yang kemudian dikenal dengan nama Dalem Ngabean. Akan tetapi, masyarakat umum lebih akrab dengan nama Kampung Ngadisuryan. Pada saat ini, dalem tersebut masih ada dan sudah menjadi hak milik perseorangan. Secara administratif, Kampung Ngadisuryan berada dalam wilayah Kecamatan Keraton.

Joyonegaran

Kampung Joyonegaran berada di sebelah selatan Kampung Wirogunan. Nama kampung ini mengikuti nama pemilik atau penghuni rumah induk, yaitu KRT Joyonegoro. Rumahnya disebut sebagai Dalem Joyonegaran sehingga nama kampungnya pun adalah Kampung Joyonegaran. Sebenarnya KRT Joyonegoro adalah cucu Hamengku Buwono ke-II dan menjabat sebagai Kapten golongan Prajurit Nyutra.

Perlu diketahui, wilayah ini juga dikenal sebagai Kampung Jogonegaran karena di situ juga tinggal KRT Jogonegoro. Semula beliau bernama KRT Purwonegoro, menantu Hamengku Buwono VII, suami GKR Hangger, putri Hamengku Buwono VII dari Permaisuri GKR Hemas. Setelah GKR Hangger meninggal, KRT Purwonegoro lalu berganti nama KRT Jogonegoro. Secara administratif, Kampung Jogonegaran ini berada dalam wilayah Kecamatan Mergangsan.

Tejokusuman

Kampung Tejokusuman berada di sekitar dalem GPH Tejo Kusumo (lurah pangeran), putra ke-27 Hamengku Buwono VII dari garwa permasiuri GKR Kencono. Dalem tersebut terletak di sebelah barat laut Gerbang Jogoboyo di perempatan Jalan Tamansari. Dalam Tejokusuman yang dibuat tahun 1873 M berbentuk Joglo dengan pintu gapura Padukaksa. Dahulu, dalem ini menjadi pusat belajar seni tari dan latihan pencak silat yang dipimpin oleh RM Harimurti (Ndoro Hari), sekarang ini, Dalem Tejokusuman menjadi milik kelompok Gramedia Jakarta dan difungsikan sebagai kantor. Secara administratif, Dalem Tejokusuman berada di dalam wilayah Kecamatan Ngampilan.

Wijilan

Kampung Wijilan berada di sekitar Dalem KRT Wijil, suami GKR Dewi, putri ke-38 Hamengku Buwono VII dari garwa permasiuri GKR Kencono. Dalem tersebut kemudian ditempati oleh BRAy Condrokirono, putri ke-54 Hamengku Buwono VII dari garwa permaisuri GKR Kencono. Beliau menempati dalem tersebut setelah suaminya yaitu KPH Harjo Kusumo pensiun sebagai Patih Danurejo VIII sehingga kemudian hari dalem tersebut dikenal dengan nama Dalem Condrokiranan. Letak dalem tersebut di sebelah barat daya Plengkung Tarunasura, di sebelah barat Jalan Wijilan. Secara administratif, Kampung Wijilan berada di wilayah Kecamatan Keraton.

Sindunegaran

Kampung Sindunegaran merupakan tempat tinggal Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Sindunegara. Beliau adalah abdi dalem Bupati Ngleber yang tugas pokoknya adalah membantu membuat minuman (unjukan) untuk tamu-tamu keraton. Perlu diketahui, secara administratif, Kampung Sindunegaran ini termasuk dalam wilayah Kecamatan Jetis.

Condronegaran

Kampung Condronegaran berada di sekitar dalem BRAy Condronegoro, putri ke-37 Hamengku Buwono VII dari garwa BRAy Retnomurcito. Letak kampung ini di selatan Kampung Daengan, Pojok Beteng Kulon (Jalan Suryaden). Masyarakat luas mengenal wilayah tersebut sebagai Kampung Condronegaran, Gedongkiwo. Secara administratif, Kampung Condronegaran termasuk dalam wilayah Kelurahan Gedongkiwo, Kecamatan Mantrijeron.

Cokrodiningratan

Kampung Cokrodiningratan ini sesungguhnya merupakan tempat tinggal dari KPH Cokrodiningrat, suami dari BRAy Cokrodiningrat. Sebagaimana halnya nama tempat tinggal para bangsawan lainnya maka tempat tinggal beliau ini dikenal sebagai Dalem Cokrodiningratan.

Jogonegaran

Kampung Jogonegaran berada di sekitar dalem KRT Jogonegoro III, suami BRAy Jogonegoro. Beliau adalah putri ke-34 Hamengku Buwono VII dari garwa BRAy Pujoretno. Adapun letak kampung tersebut adalah di sebelah barat Kampung Dagen dan Kampung Pajeksan. Secara administratif, Kampung Jogonegaran berada di wilayah Kecamatan Gedong Tengen.

Suryodiningratan

Kampung Suryodiningratan berada di sekitar dalem BPH Suryodiningrat, putra ke-24 Hamengku Buwono VII dari garwa BRAy Retnojuwito. Letak dalem tersebut di sebelah selatan Jalan Suryodiningratan dan berdekatan dengan Dalem Brongtodiningratan. Kalau dari gledhegan dalem tersebut (Jalan Suryodiningratan) ke arah timur ke Jalan Mayjend D.I. Panjaitan (Jalan Gebayanan), ke barat Jalan Suryaden.

Pada saat ini, sisi timur dalem tersebut digunakan untuk kediaman keluarga RM Wisnu Wardana, putra GBPH Suryodiningrat. Sementara di sisi barat dimanfaatkan untuk SMP II Stelladuce. Secara administratif, Kampung Suryodiningratan ini berada di dalam wilayah Kelurahan Suryodiningratan, Kecamatan Mantrijeron.

Sosrowijayan

Kampung Sosrowijayan berada di sekitar dalem KRT Sosrowijoyo, suami BRAy Sosrowijoyo, putri ke-23 Hamengku Buwono II dari garwa BRAy Pujaningsih. Tepatnya dalem tersebut berada di sebelah selatan Stasiun Kereta Api Tugu. Untuk menuju dalem tersebut dapat ditempuh dari Jalan Malioboro ke arah barat menuju Jalan Sosrowijayan. Pada saat ini, dalem tersebut sudah tidak ada dan telah beralih fungsi menjadi hotel. Secara administratif, Kampung Sosrowijayan ini berada di wilayah Kecamatan Gedong Tengen.

Timuran

Kampung Timuran terletak di ujung barat bagian utara wilayah Kelurahan Brontokusuman, Kecamatan Mergangsan. Kampung ini berada di sekitar dalem BPH Timur, putra ke-78 Hamengku Buwono II dari garwa ampeyan BRAy Kulon. Pada saat ini, bekas dalem Timuran berada di perbatasan wilayah RW 1 dan RW 2 bersebelahan dengann Dalem Brontokusuman.

Sosrodipuran

Kampung Sosrodipuran berada di sekitar dalem BRAy Sosrodipuro, putri ke-65 Hamengku Buwono II dari garwa BRAy Surtikanthi. Kampung ini bersebelahan dengan Kampung Sosromenduran, di selatan Sosrowijayan. Secara administratif, Kampung Sosrodipuran berada dalam wilayah Kelurahan Sosromenduran Kecamatan Gedong Tengen.

Ngadinegaran

Kampung Ngadinegaran berada di sekitar dalem BPH Hadinegoro I, putra ke-13 Hamengku Buwono VII dari garwa BRAy Retnosangdiah. Letak dalem tersebut di sebelah selatan Plengkung Nirbaya, Jalan Bebayanan (seberang Jalan Mayjen DI Panjaitan). Kalau dari gledhegan dalem ke arah utara sampai di simpul perempatan Gading, ke selatan sampai di Panggung Krapyak. Di sepanjang jalan tersebut terdapat tanaman khas yang mempunyai makna filosofis, yaitu pohon asam dan tanjung. Secara administratif, Kampung Ngadinegaran berada dalam wilayah Kelurahan Mantrijeron, Kecamatan Mantrijeron.

Notoprajan

Kampung Notoprajan berada di sekitar dalem BPH Notoprojo, putra ke-31 Hamengku Buwono VII dari garwa permaisuri GKR Kencono. Kemudian dalem tersebut dihuni oleh GBPH Hadiwijoyo, putra ke-30 Hamengku Buwono VIII dari garwa BRAy Retnopuspito. Dalem tersebut berada di sebelah barat Kampung Suronatan, Jalan KH. Agus Salim (dulu Jalan Notoprajan). Kalau dari gledhegan ke arah barat menuju simpul Jalan Serangan, ke arah timur menuju simpul Jalan Kauman – Jalan Ngasem – Jalan Nyi A. Dahlan (Jalan Gerjesi). Secara administratif, Kampung Notoprajan berada di wilayah Kecamatan Ngampilan.

Dipowinatan

Kampung Dipowinatan berada di sebelah selatan Makam Kintelan, utara Kelurahan Keparakan. Disebut Kampung Dipowinatan karena di tempat tersebut tinggal seorang kerabat keraton (bupati), yakni KRT Dipowinoto. Beliau cucu Hamengku Buwono II, putra BPH Dipowijoyo (putra ke-44 Hamengku Buwono II dari garwa BRAy Gardawati yang merupakan putri Tionghoa).

Semenjak dalem Dipowinatan ditempati KRT Jajadipura maka berubah nama menjadi Dalem Jayadipuran dan perkampungan di sekelilingnya dikenal dengan Kampung Joyodipuran. Dulu wilayah Kampung Dipowinatan terdiri dari dua: Dipowinatan dan Numbak Anyar. Secara administratif, Kampung Dipowinatan berada di wilayah Kecamatan Mergangsan.

Suryonegaran

Dinamakan Kampung Suryonegaran karena dahulu di sekitar merupakan tempat tinggal KRT Suryonegoro, seorang abdi dalem keraton. Suryonegoro berasal dari kata ”Suryo” yang berarti matahari, dan”negoro” artinya negara. Secara administratif, Kampung Suryonegaran berada di wilayah Kelurahan Bumijo, Kecamatan Jetis.

Pugeran

Kampung Pugeran terlatak di sekitar dalem GPH Puger, putra ke-20 Hamengku Buwono VI dari garwa permaisuri GKR Sultan (GKR Hageng). Dalem Pugeran berada di sebelah selatan Benteng Baluwarti, Jalan Letjen MT. Haryono (Jalan Pugeran). Dulu sepanjang Jalan Pugeran banyak ditanami pohon gayam. Secara administratif, Kampung Pugeran berada di dalam wilayah Suryodiningratan, Kecamatan Mantrijeron.

Suryoputran

Kampung Suryoputran berada di sekitar dalem GPH Suryoputro, di sebelah magangan keraton. Beliau adalah putra Hamengku Buwono VI dari garwa BRAy Retnoningdiah. Dalem tersebut juga dikenal dengan nama Ngadikusuman. Pohon yang khas ditanam sepanjang Jalan Magangan Wetan adalah pohon tanjung. Secara administratif, Kampung Suryoputran berada dalam wilayah Kecamatan Keraton.

Pakuningratan (Jetis)

Dahulu Kampung Pakuningratan terdapat dalem GBPH Pakuningrat, putra ke-41 Hemangku Buwono VII dari garwa BRAy Retnopurnomo. Jalan masuk menuju Kampung Pakuningratan dinamakan AM. Sangaji. Sejak masa Hamengku Buwono VII, di sekitar kampung tersebut tumbuh dan berkembang komunitas Ciradan warga Belanda. Secara administratif, Kampung Pakuningratan terletak di wilayah Kecamatan Jetis.

Suryowijayan

Di Kampung Suryowijayan dulu merupakan dalem BPH Suryowijoyo, putra ke-30 Hamengku Buwono VII dari garwa BRAy Retnomurcito. Dalem kemudian ditempati oleh GBPH Suryobrongto, putra ke-23 Hamengku Buwono VIII dari garwa BRAy Pujoningrat. Dalem tersebut berada di sebelah barat Benteng Keraton. Sepanjang Jalan Suryowijayan banyak ditanam pohon gayam. Secara administratif, Kampung Suryowijayan berada di dalam wilayah Kelurahan Gedong Kiwo, Kecamatan Mantrijeron.

Notoyudan

Kampung Notoyudan berada di sekitar dalem KRT Notoyudo, suami BRAy Notoyudo, putri ke-16 Hamengku Buwono VI dari garwa BRAy Murtiningrum. KRT Notoyudo adalah seorang tumenggung keraton. Secara administratif, Kampung Notoyudan termasuk wilayah Kecamatan Ngampilan.

Brontokusuman

Kampung Brontokusuman berada di sekitar dalem Brontokusumo, putri ke-8 Sri Sultan Hamengku Buwono VII dari garwa permaisuri GKR Kencono. Dalem Brontokusuman kemudian ditempati oleh GBPH Puger, putra bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono III dari garwa BRAy Retnopuspito. Oleh karena itu, ada pula yang menyebut dalem Brontokusuman dengan nama dalem Pugeran. Namun, nama kampungnya tetap Kampung Brontokusuman. Secara administratif, Kampung Brontokusuman termasuk dalam wilayah Kelurahan Brontokusuman, Kecamatan Mergangsan (bersebelahan dengan Kelurahan Keparakan).

Yudonegaran

Kampung Yudonegaran berada di sekitar dalem KPH Yudonegoro III, suami dari GKR Ayu, putri ke-36 Hamengku Buwono VII dari garwa permaisuri GKR Hemas. Dalem tersebut berada di sebelah timur Alun-alun Utara keraton, yaitu di jalan Ibu Ruswo (Jalan Yudonegaran). Saat ini dalem tersebut ditempati GBPH Yudaningrat, putra ke-13 Hamengku Buwono IX dari garwa BRAy Hastungkoro. Secara administratif, Kampung Yudonegaran berada dalam wilayah Kecamatan Gondomanan.

Prawirodirjan

Kampung Prawirodirjan berada di sekitar dalem KRT Prawirodirjo suami BRAy Maduretno, putra ke-5 Hamengku Buwono IV dari garwa BRAy Murcitaningrum. Beliau adalah seorang bupati nayaka keparak tengen. Kampung ini terletak di sebelah utara Kampung Keparakan Tengen. Seara administratif, Kampung Prawirodirjan berada di wilayah Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan.

Jogoyudan

Dinamakan Kampung Jogoyudan karena merupakan tempat tinggal Jogoyudo. Dulu di sini ada kebon dalem yang oleh Sultan Hamengku Buwono VII dipergunakan untuk memelihara hewan. Juga ada kebonsari sebagai tempat berkebun dan tanaman bunga. Secara administratif, Kampung Jogoyudan ini termasuk dalam wilayah Kecamatan Jetis.

Kumendaman

Kampung Kumendaman berada di sekitar dalem KPH Purwodiningrat (Mayor Kumendaman atau Komandan), yakni wedona hageng prajurit keraton pada masa Hamengku Buwono VII. Pada saat ini, dalem tersebut ditempati oleh GBPH Cokrodiningrat, putra ke-14 Hamengku Buwono IX dari garwa BRAy Hastungkoro. Dalem tersebut terletak di barat daya Plengkung Nirbaya (Gading). Secara administratif, Kampung Kumendaman berada di dalam wilayah Kelurahan Suryodiningratan, Kecamatan Mantrijeron.

Danurejan

Dinamakan Kampung Danurejan karena keberadaan Kanjeng Raden Adipati (KRA) Danurejo, dalem Patih Danurejo dikenal dengan nama Kepatihan Danurejan. Sejak 1945 sampai sekarang difungsikan untuk Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta oleh Hamengku Buwono IX dan X. Kecamatan Danurejan terdiri dari tiga kelurahan, yakni Bausasran, Suryatmajan, dan Tegal Panggung.

Pakuningratan (Njeron Benteng)

Kampung Pakuningratan berada di sekitar dalem BPH Pakuningrat, suami GKR Pakuningrat, putri ke-1 Hamengku Buwono VIII dari garwa BRAy Pujoningdiah. Dalem tersebut merupakan tempat kelahiran GRM Dorojatun, putra GKR Hamengku Negoro (GKR Alit) yang kemudian menjadi Hamengku Buwono X. Dalem ini terletak di sebelah utara simpul Jalan Palawijan, Jalan Mergangsan Kulon dan Jalan Taman. Secara administratif, Kampung Pakuningratan ini berada di wilayah Kecamatan Kraton.

Sindurejan

Kampung Sindurejan merupakan permukiman yang berada di sekeliling dalem KRT Sindurejo. Beliau adalah wedara hageng prajurit keraton, suami BRAy Pembayun, putri ke-3 Hamengku Buwono VII dari garwa BRAy Retnoningsih. Wilayah ini berada di bagian timur laut Kampung Patangpuluhan. Secara administratif, Kampung Sindurejan berada di wilayah Kecamatan Wirobrajan.

Sutodirjan

Kampung Sutodirjan berada di sekitar dalem KRT Sutodirjo, seorang abdi dalem keraton. Letak dalem tersebut di Jalan Kemetiran, sebelah timur dalem Notoyudan. Kini dalem tersebut tidak ada lagi dan berubah menjadi SMK Negeri. Secara administratif, Kampung Sutodirjan (selatan Kampung Kemetiran) berada di wilayah Kelurahan Pringgokusuman, Kecamatan Gedong Tengen.

Danunegaran

Kampung Danunegaran berada di sekitar dalem Danunegoro, putra ke-4 Hamengku Buwono VII dari garwa BRAy Retnohadi. Dalem ini berada di sebelah selatan Pojok Beteng Wetan, yaitu di Jalan Timuran (sekarang Jalan Mayjen Sutoyo). Dalem tersebut ditempati oleh KRT Puspodiningrat, cucu Hamengku Buwono VI, suami GKR Bendoro II, putra ke-43 Hamengku Buwono VII dari garwa permaisuri GKR Hemas. Secara administratif, Kampung Danunegaran tersebut berada di wilayah Kelurahan Mantrijeron, Kecamatan Mantrijeron.

Bintaran

Kampung Bintaran berada di sekitar tempat tinggal BPH Bintoro, putra ke-61 Hamengku Buwono II dari garwa BRAy Sasmitowati. Kampung ini berada di bagian barat laut Kampung Wirogunan. Adapun letak dalem di Jalan Sersan KKO Harun bin Ali (Jalan Bintaran Kidul). Secara administratif, Kampung Bintaran ini termasuk di wilayah Kecamatan Mergangsan.

Mangunnegaran

Kampung Mangunnegaran berada di sekitar dalem kediaman BRAy Mangunnegoro, putri ke-52 Hamengku Buwono VII dari garwa BRAy Retnomandoyo. Letak dalem ini di sebelah tenggara Plengkung Tarunasura, di Jalan Sawojajar. Secara administratif, Kampung Mangunnegaran berada dalam wilayah Kecamatan Keraton.

Singosaren

Kampung Singosaren berada di wilayah dalem bangsawan keraton yang bernama BPH Singosari, putra ke-16 Hamengku Buwono II dari garwa ampeyan BRAy Wetan. Secara administratif, Kampung Singosaren termasuk dalam wilayah Kelurahan Wirobrajan, di mana kampung ini berada di bagian ujung barat laut.

Sosromenduran

Kampung Sosromenduran berada di seputar dalem KRT Sosromenduran, seorang abdi dalem keraton. Kampung Sosromenduran ini terletak bersebelahan dengan Kampung Sosrodipuran, selatan Kampung Sosrowijayan. Secara administratif, Kampung Sosromenduran berada di dalam wilayah Kelurahan Sosromenduran, Kecamatan Gedong Tengen.

Mangkuyudan

Kampung Mangkuyudan berada di sekitar dalem KRT Mangkuyudo, suami BRAy Mangkuyudo, putri ke-4 Hamengku Buwono VII dari garwa BRAy Retnohadi. Dalem tersebut terletak di Jalan Mangkuyudan. Secara administratif, Kampung Mangkuyudan ini berada di dalam wilayah Kelurahan Mantrijeron, Kecamatan Mantrijeron.

Tulisan diambil dari buku:

  • “Dinamika Kampung Kota Prawirotaman dalam Perspektif Sejarah dan Budaya”.
  • Penulis: Sumintarsih, dkk., Penerbit: BPNB D.I. Yogyakarta. Tahun: 2014