Industri Tempe di Yogyakarta | Menerima Pesanan Partai Kecil dan Besar

industri tempe di yogyakarta

Industri Tempe di Yogyakarta – Apakah anda sedang mencari industri atau pabrik tempe di Yogyakarta, Sleman, Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo dan ingin memesan tempe dari pembuatnya langsung? Silahkan hubungi TEMPE SUPER MURNI JT (klik saja untuk whatsapp): 08995010799. Produsen tempe di Yogyakarta yang siap menerima pemesanan anda dalam partai kecil hingga besar. Industri ini beralamatkan di: Mredo Wetan, RT 04, Bangunharjo, Sewon, Bantul. TERSEDIA BERBAGAI MACAM HARGA DAN SEGALA JENIS UKURAN. Namun sebelumnya kami akan membahas apa itu tempe, yuk simak artikel ini sampai habis!

pabrik tempe di yogyakarta

Apa itu tempe?

Tempe merupakan makanan yang terbuat dari kacang kedelai atau beberapa bahan lain yang diproses melalui fermentasi menggunakan mikroorganisme kapang Rhizopus sp. atau yang biasa dikenal sebagai starter/ ragi tempe. Kapang Rhizopus sp. ini berperan memecah senyawa kompleks yang ada pada bahan baku sehingga lebih mudah dicerna. Tempe sudah lama dikenal oleh masyarakat, khususnya masyarakat Jawa sebagai salah satu makanan khas tradisional Indonesia dan diproduksi secara turun temurun. Sampai saat ini, produksi tempe sudah menyebar ke seluruh dunia karena kandungan gizinya yang baik untuk kesehatan manusia.

Sejarah dan Perkembangan Tempe

Proses pembuatan tempe diperkirakan merupakan teknologi pangan tertua yang ada pada masyarakat Jawa, Indonesia. Dalam Serat Centhini (sebuah manuskrip bersejarah yang dipublikasikan pada abad ke-16) ditemukan kata “tempe” sebagai hidangan jae santen tempe (makanan tempe dengan santan) dan kadhele tempe srundengan, hal tersebut menunjukkan bahwa makanan tradisional ini sudah dikenal sejak dahulu dalam tatanan budaya makan masyarakat Jawa, khususnya Yogyakarta dan Surakarta.

Saat ini, Indonesia merupakan negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Tingkat konsumsi kedelai di Indonesia juga meningkat karena sebanyak 50 % kedelai Indonesia digunakan untuk memproduksi tempe, 40 % untuk produksi tahu, dan 10 % untuk produksi produk lain seperti tauco, kecap dan lain lain. Masyarakat Indonesia tidak hanya mengonsumsi tempe sebagai lauk pauk nasi, tetapi saat ini tempe telah diolah dan diproses menjadi aneka masakan seperti keripik tempe, nugget tempe, dll.

Kandungan Gizi Tempe

Kedelai merupakan salah satu sumber protein dan gizi yang baik, tetapi tidak semua kandungan gizi tersebut dapat diserap oleh tubuh. Melalui proses fermentasi kedelai, kandungan gizi yang dihasilkan akan meningkat dan lebih mudah dicerna tubuh, selain itu aroma dan cita rasa makanan menjadi lebih baik.

Kandungan gizi yang terkandung pada tempe adalah sebagai berikut:

Protein

  • Berdasarkan pada berbagai penelitian, kandungan protein yang bisa dicerna (digestibility) pada tempe relatif tinggi, yaitu sekitar 86.1 %. Tingginya kandungan protein pada tempe (18 %) juga seimbang dengan kandungan protein yang ada di daging (18-20 %). Selain itu, tempe mengandung 8 asam amino esensial yang dibutuhkan oleh tubuh. Asam amino esensial merupakan senyawa penting yang tidak dapat dibentuk oleh tubuh, tetapi harus didapatkan melalui asupan makanan. Asam amino ini diperlukan untuk menjaga pertumbuhan tubuh. Tidak tercukupinya protein dalam asupan makanan sehari-hari akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel dan jaringan tubuh sehingga sistem tubuh tidak berjalan optimal. Kekurangan asam amino spesifik juga akan menimbulkan dampak yang berbeda bagi tubuh. Sebagai contoh, kekurangan asam amino arginin menyebabkan infertilitas atau ketidaksuburan pada pria; kekurangan histidin akan menggangu kesehatan sel darah merah dan putih; kekurangan isoleusin akan mempengaruhi pembentukan hemoglobin, kadar gula darah dan energi.

Vitamin

  • Tempe merupakan sumber vitamin B yang sangat potensial. Jenis vitamin yang terkandung pada tempe antara lain, vitamin B1, vitamin B2, asam pentotenat, asam nikotinat, vitamin B6 dan vitamin B12. Vitamin B12 merupakan zat gizi penting yang dibutuhkan oleh tubuh untuk pembentukan sel darah merah dan mencegah penyakit anemia (kekurangan darah). Umumnya, vitamin B12 terdapat pada berbagai produk makanan hewani (daging, telur, produk susu) dan tidak ditemukan pada produk nabati (sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan) kecuali pada produk tempe. Kandungan B12 pada tempe ini dikarenakan pada starter/ ragi tempe terkandung bakteri penghasil vitamin B12 yaitu Klebsiella pneumoniae.

Asam Lemak

  • Proses fermentasi pada tempe dapat meningkatkan derajat ketidakjenuhan lemak, sehingga kandungan asam lemak tidak jenuh pada tempe meningkat. Asam lemak tidak jenuh ini dapat menurunkan kadar kolesterol LDL (kolesterol jahat) tanpa mempengaruhi kadar kolesterol HDL (kolesterol baik) dalam darah. Penurunan kadar kolesterol LDL dalam darah ini berakibat baik bagi kesehatan dan dapat mencegah kita dari risiko penyakit jantung.

Antioksidan

  • Tempe mengandung zat antioksidan dalam bentuk isoflavon yang dibutuhkan oleh tubuh untuk menghentikan reaksi pembentukan radikal bebas. Salah satu zat antioksidan yang terdapat pada tempe adalah 6,7,4 – trihidoksil isoflavon yang memiliki sifat antioksidan kuat. Antioksidan ini disintesis pada saat terjadinya proses fermentasi oleh ragi tempe.

Antibiotik Alami

  • Kapang Rhizopus sp. yang berperan dalam proses fermentasi tempe diketahui dapat memproduksi senyawa antibakteri alami untuk melawan penyakit yang disebabkan oleh berbagai bakteri patogen.

Proses Produksi Tempe

Produksi tempe merupakan proses yang mudah dilakukan karena umumnya menggunakan cara sederhana. Pada dasarnya, cara pembuatan tempe terdiri dari 2 bagian, yaitu proses pemasakan dan proses fermentasi kedelai. Berikut langkah-langkah proses produksi tempe:

  1. Biji kedelai diseleksi dengan cara menampi biji kedelai pada tampah.tempe daun
  2. Biji kedelai dicuci dengan menggunakan air mengalir sampai bersih.
  3. Biji kedelai direbus selama 30 menit atau sampai mendekati setengah matang (perebusan 1)
  4. Biji kedelai yang sudah direbus, direndam selama semalam; kemudian kulit arinya dikupas.
  5. Biji kedelai yang telah terpisah dari kulit arinya dicuci kembali.
  6. Biji kedelai direbus selama 1 jam (perebusan 2) hingga matang dan bertujuan untuk membunuh bakteri yang kemungkinan tumbuh selama perendaman.
  7. Setelah matang, biji kedelai diangkat, kemudian didinginkan dengan cara dihamparkan di atas tampah. Biji kedelai dibiarkan dingin sampai permukaannya kering dan airnya tidak ada yang menetes.
  8. Proses selanjutnya adalah tahapan inokulasi (pemberian ragi). Biji kedelai yang sudah dingin ditaburi ragi tempe (1 g ragi untuk setiap kg kedelai) dan diaduk hingga merata.
  9. Biji kedelai tersebut dibungkus/ dicetak menggunakan daun pisang atau kantung plastik bersih.
  10. Setelah itu, bungkusan plastik ditusuk dengan lidi agar terdapat aliran udara.
  11. Bungkusan plastik/daun diletakkan di atas rak dan diperam semalaman atau lebih (24-48 jam).
  12. Tempe yang sudah jadi siap diolah dan dikonsumsi.

Selama proses produksi tempe, kebersihan merupakan faktor penting yang harus diperhatikan agar dapat menghasilkan tempe yang aman dikonsumsi. Hal yang perlu diperhatikan adalah kebersihan para pekerja, peralatan kerja (sarana dan prasarana), dan kebersihan lingkungan tempat produksi maupun penyimpanan baik dalam proses penyiapan, pembuatan dan penanganannya. Tempe merupakan produk pangan yang aman untuk dikonsumsi apabila proses produksi yang dilakukan bersih dan sesuai dengan aturan produksi. Badan Standardisasi Nasional (BSN) telah menerbitkan standar tempe, yaitu SNI 3144: 2009.

Tips Memilih dan Menyimpan Tempe

  • Tempe yang masih baru dan segar memiliki tekstur kompak/ padat, selain itu permukaannya tampak putih mulus, aroma yang dihasilkan pun aroma khas tempe.
  • Tempe yang memiliki tekstur lunak, kehitaman, berbau tengik dan berlendir berarti tempe tersebut telah mulai membusuk dan tidak layak untuk dikonsumsi.
  • Pada saat akan menyimpan tempe, tempe harus dikemas dalam kemasan yang tertutup agar tidak mempengaruhi isi, tetap aman dan tahan lama.
  • Jika ingin menyimpan tempe dalam lemari es, sebaiknya tidak disimpan lebih dari 3 hari karena walaupun disimpan dalam lemari es, tempe tetap akan mengalami perubahan cita rasa.

Sumber: https://klubpompi.pom.go.id/id/berita/item/374-tempe