Batik Tulis Giriloyo

Batik Tulis Asli Giriloyo Yogyakarta

Batik tulis memiliki banyak sekali motif dan modelnya dan berasal dari berbagai daerah yang berada di Indonesia yang mana dalam setiap daerah tersebut tentu memiliki kain batik dengan ciri khasnya sendiri yang memiliki nilai jual yang tinggi dalam setip daerahnya.

Selain itu, pada setiap batik tentu mempunyai makna atau filosofi yang tersembunyi di dalam kain batik itu sendiri pada setiap kain batik di daerah-daerah Indonesia tersebut yang tentunya makna atau filosofi tersebut berkaitan dengan adat istiadat yang berada di daerah tersebut.

Tidak lain dengan adanya Batik Tulis Giriloyo yang mana ini merupakan sentra batik Giriloyo yang berasal dari kota bantul. Batik-batik tersebut merupakan warisan batik yang berasal dari batik-batik keraton yang berada di daerah selatan yogyakarta.

Giriloyo ini merupakan suatu nama desa yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Yang menjadi unik pada dari Giriloyo ini adalah sentra batik yang sangat lengkap yang merupakan batik-batik yang berasal dari keraton Yogyakarta. Selain itu, banyak warga yang justru menganggap bahwa daerah Giriloyo ini adalah daerah yang di anggap keramat.

Hal ini terjadi karena di daerah Giriloyo ini adalah area atau suatu tempat dari makam-makam para raja-raja dari kerajaan mataram dan juga dari keraton yogyakarta itu sendiri. Selain itu, juga terdapatnya makam-makam para seniman yang Agung.

Dengan banyaknya makam orang-orang yang dianggap penting dalam daerah yogyakarta tersebut itu lah yang membuat area Giriloyo ini dianggap menjadi area atau tempat yang dianggap keramat oleh para warga penduduk yang berada sekitar daerah Giriloyo tersebut.

Letak dari Desa Giriloyo ini adalah kurang lebih sekitar 20 kilometer ke arah selatan jika dari Yogyakarta dan kurang lebih sekitar 1 sampai 2 kilometer dari area makam para raja. Wilayah Giriloyo yang merupakan daerah di Imogiri ini adalah pusat atau sentra kerajinan dari batik tulis yang sudah cukup tua.

Wilayah ini memiliki 16 dusun dengan 5.600 kepala keluar yang terdiri dari 16.000 jiwa. Pengrajin batik tulis di desa Giriloyo ini tersebar di 16 dusun tersebut. Akan tetapi sekarang ini hanya terdapat 6 dusun saja yang masih hidup sentra batiknya.

Ke enam dusun tersebut yaitu yang pertama adalah dusun Giriloyo, kemudian dusun Cengkehan, ada juga dusun Kedung Buweng, dusun Karangkulon dan ada dusun Nogosari I serta dusun Nogosari II.

Dalam setiap dusun tentu memiliki jumlah pembatik yang berbeda-beda jumlahnya dan jumlah yang paling banyak memiliki pembatik adalah di dusun Giriloyo, kemudian dusun Cengkehan dan juga dusun Karangkulon.

Ketiga dusun tersebut adalah dusun yang banyak memproduksi batik tulis dan batik tulis tersebut dinamakan dengan batik Giriloyo. Ciri khas dari batik Giriloyo adalah batik yang memiliki motif keraton yang sangat halus dengan khasnya yaitu batiknya berwarna cokelat atau orang-orang yang berkutat dengan batik lebih sering menyebutnya dengan warna Soga.

Sejarah Dari Batik Giriloyo

Batik Giriloyo ini sudah berdiri sejak lama yaitu kurang lebih sekitar tahun 1654 atau lebih mudahnya diketahui sejak zaman dari pemerintahan sultan agung yang berasal dari kerajaan Mataram.

Pada dahulu kala sultan agung memerintahkan daerah yang berada di perbukitan Imogiri untuk dijadikan sebagai tempat area makam untuk para raja yang sudah meninggal atau wafat. Oleh karena itu, para abdi keraton ini juga harus menjaga daerah tersebut. kemudian, para abdi keraton tersebut tidak hanya menjaga makam namun juga membatik yang mana untuk keperluan dari keraton.

Batik-batik yang dihasilkan oleh abdi negara tersebut memiliki bentuk hasil batik yang mentah dalam artian mentah di sini adalah batik yang belum diberikan warna dan memasarkan batik karyanya tersebut ke Kraton Yogyakarta.

Dan kemudian pada sekarang ini para penerus dari abdi Kraton tersebut tetap membatik hingga sekarang ini dengan tujuan untuk tetap melestarikan budaya yang dari dahulu sudah ada sehingga tidak akan punah batik Giriloyo tersebut.

Sekarang ini banyak pembatik dari daerah Giriloyo tersebut adalah seorang wanita. Selain menjadi ibu rumah tangga atau bekerja di ladang, para wanita di daerah Giriloyo ini melakukan pekerjaan membatik yaitu batik Giriloyo.

Sedangkan para suami di daerah Giriloyo ini kebanyakan dari mereka memiliki pekerjaan yaitu sebagai pedagang. Hasil dari kerajinan batik yang di buat oleh istrinya tersebut akan di pasarkan oleh suaminya. Selain itu, ada beberapa orang yang bahkan sampai mendirikan sanggar khusus yang digunakan untuk sebagai tempat menjual batik tulis yang dihasilkannya tersebut.

Dengan banyaknya pembatik wanita di daerah Giriloyo tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa ada juga pembatik pria. Daerah giriloyo ini juga memiliki beberapa pembatik pria yang bekerja sama dengan para wanita untuk membuat batik tulis Giriloyo.

Dan para pembatiknya pun tidak hanya orang-orang yang sudah tua namun juga terdapat banyak pembatik yang masih muda. Hal ini tentunya sangat bagus untuk kelangsungan dari batik Giriloyo yang terus mengajarkan para pemudanya membatik sehingga kerajinan batik Giriloyo ini akan terus ada dengan di buat oleh para generasi muda yang akan terus melestarikan batik Giriloyo tersebut.

Para warga yang berada di daerah Giriloyo ini sudah memiliki pasar batik Giriloyo yang sangat luas dan juga pesat. Beberapa dari mereka sudah dapat berkolaborasi dengan berbagai agen travel dan rental mobil di Jogja sehingga proses pemasarannya pun menjadi meluas.

Daerah Giriloyo yang berada di imogiri ini selain sebagai sentra batik juga merupakan desa wisata yang memiliki beberapa wisata yang wajib anda kunjungi dengan berbagai pesona alamnya. Dan dengan adanya wisata-wisata tersebut inilah yang membuat batik Giriloyo dapat menjadi luas dan mempermudahkan pemasaran.

Para pengrajin batik yang sudah berkolaborasi dengan berbagai agen travel ini seringkali akan membawa para pengunjungnya ke sanggar batik yang ada di daerah Giriloyo tersebut sehingga para pengunjung juga akan mengenal batik Giriloyo dan bahkan akan tertarik untuk membeli batik Giriloyo tersebut.

Di daerah tersebut selain menjual batik-batik yang sangat memikat mata juga terdapat beberapa gazebo yang digunakan untuk belajar membuat batik dan mengenal banyaknya motif-motif khas keraton batik giriloyo ini.

Motif-motif yang sangat banyak itu yaitu sekitar ribuan motif namun hanya 400 motif batik Giriloyo yang sering di pamerkan atau dikenakan oleh seseorang dan motif-motif yang paling terkenal adalah motif sidoasih, kemudian motif wahyu tumurun, motif truntung, motif sidomukti, motif pringgodani, motif keong renteng dan masih banyak yang lainnya.

Dengan adanya hal tersebut itulah yang juga menjadi para wisatawan baik itu dalam negeri maupun luar negeri melirik daerah Giriloyo tersebut dengan keanekaragaman batiknya. Batiknya itu sendiri memiliki harga yang disesuaikan dengan kerumitan dari batik tulis tersebut dan harga yang ditawarkan yaitu mulai dari harga Rp. 150.000,- per lembar kain.

Contoh hasil pengrajin di kampung Batik Giriloyo bisa di lihat di: Galeri Batik Tulis Asli

CaraMembuat Batik Tulis Giriloyo Khas Yogyakarta – Baik Kali Ini Penulis Akan Membagikan Bagaimana Cara Membuat Batik Tulis Yang Ada Di Yogyakarta Yaitu Batik Tulis Giriloyo. Ditemani Secangkir Kopi Dan Sebatang Rokok Malam Ini Semoga Tulisan Ini Bisa Bermanfaat Yah. Sebelumnya Penulis Juga Membahas Tentang Asal-Usul Batik Tulis Giriloyo, Nah Ini Adalah Kelanjutan Dari Postingan Sebelumnya. Langsung Saja Ini Adalah Cara Membuat Batik Tulis.

Peralatan dan Bahan Membuat Batik Tulis

Sebelum Membuat Diharapkan Sudah Memiliki Peralatan Yang Digunakan Untuk Membuat Batik-Tulis Diantaranya Adalah:

  • Wajan Kecil Yang Digunakan Sebagai Tempat Untuk Memanaskan Malam (Lilin) Supaya Cair
  • Anglo, Untuk Memanaskan Malam Dengan Bara Api Dari Arang
  • Tepas (Kipas), Untuk Memperoleh Angin Agar Bara Api Tetap Menyala
  • Gawangan, Untuk Menempatkan Mori Yang Akan Dibatik
  • Bandhul, Untuk Menahan Kain Agar Tidak Bergerak-Gerak Ketika Dilukis
  • Uthik, Untuk Mengais Arang
  • Canting Dengan Berbagai Macam Ukuran Sebagai Alat Untuk Mencurahkan Malam Cair Ke Dalam Mori Yang Digambari
  • Kenceng, Untuk Mendidihkan Air Ketika Nglorot Atau Mbabar
  • Cawuk, Untuk Mengerok Dan
  • Alu, Untuk Memukuli Kain Mori Yang Akan Dibatik Agar Lemas Dan Memudahkan Pembatik Dalam Proses Pembuatannya.

Bahan Dasar Untuk Membuat Batik Tulis Adalah Kain Mori. Selain Itu, Ada Pula Bahan-Bahan Yang Digunakan Sebagai Pewarnanya Yang Dapat Berupa Zat Kimia Maupun Pewarna Alami Seperti: Kulit Kayu Tingi, Soga, Tegeran, Dan Lain Sebagainya. Proses Pembuatan Batik Tulis Giriloyo Tahap-Tahap Pembuatan Batik-Tulis Di Giriloyo Adalah Sebagai Berikut.

  1. Kain Mori Dilemaskan

Sebelum Kain Mori Dibatik, Biasanya Dilemaskan. Caranya Adalah Dengan Digemplong, Yaitu Kain Mori Digulung Kemudian Diletakkan Di Tempat Yang Datar Dan Dipukuli Dengan Alu Yang Terbuat Dari Kayu. Setelah Kain Menjadi Lemas.

  1. Mola

Maka Tahap Berikutnya Adalah Mola, Yaitu Membuat Pola Pada Mori Dengan Menggunakan Malam. Setelah Pola Terbentuk.

  1. Nglowong

Tahap Selanjutnya Adalah Nglowong, Yakni Menggambar Di Sebalik Mori Sesuai Dengan Pola. Kegiatan Ini Disebut Nembusi.

  1. Nembok

Nembok Yang Prosesnya Hampir Sama Dengan Nglowong Tetapi Menggunakan Malam Yang Lebih Kuat. Maksudnya Adalah Unutk Menahan Rembesan Zat Warna Biru Atau Coklat.

  1. Medel

Tahap Selanjutnya Adalah Medel Atau Nyelup Untuk Memberi Warna Biru Supaya Hasilnya Sesuai Dengan Yang Diinginkan. Proses Medel Dilakukan Beberapa Kali Agar Warna Biru Menjadi Lebih Pekat.

  1. Ngerok

Selanjutnya, Ngerok Yaitu Menghilangkan Lilin Klowongan Agar Jika Disoga Bekasnya Berwarna Coklat. Alat Yang Digunakan Untuk Ngerok Adalah Cawuk Yang Terbuat Dari Potongan Kaleng Yang Ditajamkan Sisinya.

  1. Mbironi

Setelah Dikerok, Kemudian Dilanjutkan Dengan Mbironi. Dalam Proses Ini Bagian-Bagian Yang Ingin Tetap Berwarna Biru Dan Putih Ditutup Malam Dengan Menggunakan Canting Khusus Agar Ketika Disoga Tidak Kemasukan Warna Coklat.

  1. Nyoga

Setelah Itu, Dilanjutkan Dengan Nyoga, Yakni Memberi Warna Coklat Dengan Ramuan Kulit Kayu Soga, Tingi, Tegeran Dan Lain-Lain. Untuk Memperoleh Warna Coklat Yang Matang Atau Tua, Kain Dicelup Dalam Bak Berisi Ramuan Soga, Kemudian Ditiriskan. Proses Nyoga Dilakukan Berkali-Kali Dan Kadang Memakan Waktu Sampai Beberapa Hari. Namun, Apabila Menggunakan Zat Pewarna Kimia, Proses Nyoga Cukup Dilakukan Sehari Saja.

  1. Nglorot Atau Mbabar

Proses Selanjutnya Yang Merupakan Tahap Akhir Adalah Mbabar Atau Nglorot, Yaitu Membersihkan Malam. Caranya, Kain Mori Tersebut Dimasukkan Ke Dalam Air Mendidih Yang Telah Diberi Air Kanji Supaya Malam Tidak Menempel Kembali. Setelah Malam Luntur, Kain Mori Yang Telah Dibatik Tersebut Kemudian Dicuci Dan Diangin-Anginkan Supaya Kering. Sebagai Catatan, Dalam Pembuatan Satu Potong Batik Biasanya Tidak Hanya Ditangani Oleh Satu Orang Saja, Melainkan Beberapa Orang Yang Tugasnya Berbeda.

Beri Kami Rating
Sending
User Review
4 (1 vote)